Kaltimpedia
Beranda Nasional Survei Kemenag 2026: Indeks Keberagamaan Mahasiswa dan Siswa Indonesia Masuk Kategori Sangat Tinggi

Survei Kemenag 2026: Indeks Keberagamaan Mahasiswa dan Siswa Indonesia Masuk Kategori Sangat Tinggi

Indeks Keberagamaan Mahasiswa

JAKARTA – Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama resmi merilis hasil survei Indeks Keberagamaan Mahasiswa (IKM) dan Indeks Keberagamaan Siswa (IKS) Tahun 2025. Hasilnya, tingkat keberagamaan generasi muda Indonesia menunjukkan angka yang menggembirakan, mayoritas berada pada kategori “Sangat Tinggi”.

Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan BMBPSDM, Rohmat Mulyana Sapdi, menjelaskan bahwa survei ini merupakan alat ukur keberhasilan pendidikan agama sekaligus instrumen evaluasi kebijakan Kemenag.

“Indeksasi itu bukan semata-mata menemukan angka, tapi sekaligus melakukan assessment kebijakan yang sudah kita lakukan terhadap pendidikan agama di sekolah maupun madrasah,” ujar Rohmat dalam peluncuran hasil survei di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Indeks Keberagamaan Nasional.

CAPAIAN MAHASISWA: DIMENSI IDEOLOGIS MENDOMINASI

Survei IKM mencakup mahasiswa dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dan Non-PTKI (Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha). Secara nasional, IKM PTKI meraih skor 88,40 (Sangat Tinggi).

Ditinjau dari dimensinya, ideologi menjadi nilai tertinggi di kalangan mahasiswa PTKI, sedangkan ritualistik menjadi yang terendah:

  • Ideologis: 94,15
  • Pengalaman: 94,09
  • Perilaku: 88,88
  • Intelektual: 85,68
  • Ritualistik: 82,88

Kondisi serupa terlihat pada mahasiswa Non-PTKI yang juga berada di kategori “Sangat Tinggi”. Mahasiswa Kristen memimpin dengan skor 89,75, disusul Katolik (88,27), Buddha (82,56), dan Hindu (82,54).

INDEKS SISWA: MADRASAH ALIYAH RAIH SKOR 90,02

Selain mahasiswa, Kemenag juga memotret profil keberagamaan siswa tingkat dasar hingga menengah. Hasilnya, Siswa Madrasah Aliyah (MA) meraih skor indeks sebesar 90,02 (Sangat Tinggi).

Untuk siswa lintas agama lainnya, capaian berada pada rentang “Tinggi” hingga “Sangat Tinggi”:

  • Siswa Katolik: 90,23 (Sangat Tinggi)
  • Siswa Kristen: 87,89 (Sangat Tinggi)
  • Siswa Hindu: 84,04 (Sangat Tinggi)
  • Siswa Buddha: 79,83 (Tinggi)

Penilaian ini merujuk pada lima dimensi teori Glock dan Stark (1965), yakni ideologis, ritual, pengalaman, intelektual, dan perilaku.

Tantangan Era Digital dan AI
Meski angka indeks menunjukkan tren positif, Rohmat memberikan catatan kritis terkait perkembangan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI). Kemudahan akses informasi keagamaan secara digital disebut dapat mengubah pola keberagamaan generasi muda.

“Ada hal yang dinamis mengikuti zaman, tapi di sisi lain agama memiliki ultimate meaning yang harus dipelihara. Ada nilai-nilai yang mutlak dan tidak bisa diubah,” tegasnya.

Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk memastikan pendidikan agama tetap berkualitas dan komprehensif di tengah arus modernisasi. “Pendidikan agama adalah hal yang esensial, maka perbaikannya harus melibatkan seluruh pihak,” pungkas Rohmat.(rls/mn)

Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya

Gabung Sekarang
Komentar
Bagikan:

Iklan