Jalur Pedalaman Bukan untuk Mobil Mewah seharga Rp8,5 miliar, Mujadi Ceritakan Ngerinya Jalur Lumpur tembus Telen Kutai Timur
SAMARINDA – Bagi Mujadi, deru mesin Suzuki APV dibawah tanggungjawabnya bukan sekadar alat transportasi. Ambulans RKM Gunung Kelua yang ia kemudikan adalah kepanjangan tangan kemanusiaan, bahkan ketika rute yang harus ditempuh lebih mirip kubangan bubur lumpur daripada jalan raya.
Senin (9/3/2026), Mujadi driver ambulans relawan Info Taruna Samarinda (ITS) menghela napas panjang saat menceritakan kembali perjalanan heroiknya mengantarkan jenazah dari Perumahan Bengkuring, Samarinda, menuju Dusun Lingai Jalung, Desa Long Melah, Kecamatan Telen, Kutai Timur. Perjalanan yang dimulai pada Sabtu (7/3) pukul 13.00 WITA itu menjadi ujian fisik dan mental yang luar biasa.
Bertaruh Nasib di Jalur Alternatif
Awalnya, Mujadi berencana melintasi jalur HTI Sebulu menuju Muara Bengkal. Namun, alam berkehendak lain. Hujan deras yang mengguyur pada Jumat malam (6/3/2026) menyisakan tiga titik banjir setinggi pinggang orang dewasa.
“Jika dipaksa lewat sana, tidak bakal tembus. Akhirnya disepakati memutar lewat Sangatta – Batu Redy,” tutur Mujadi.
Keputusan memutar arah berarti menambah waktu tempuh. Namun, tantangan sesungguhnya justru baru dimulai saat roda ambulans menyentuh akses jalan di kawasan pedalaman Kutai Timur.
EMPAT KALI DITARIK “DOUBLE GARDAN”
Suzuki APV yang dikendarainya dipaksa bekerja di luar batas kemampuan. Medan jalan yang licin dan berlumpur pekat membuat ambulans tersebut berkali-kali kehilangan traksi. Mujadi menceritakan betapa kontrasnya kondisi lapangan dengan kemewahan yang sering dibicarakan orang.
“Sampai empat kali ditarik (mobil double gardan) karena parahnya akses jalan. Licin berlumpur seperti bubur. Saya yakin, mobil seharga Rp8,5 miliar pun tidak bakal mau dipakai ke jalan separah itu,” selorohnya getir.
Tak hanya lumpur, Mujadi harus menghadapi “Gunung Benteng” di Kecamatan Telen. Tanjakan curam yang licin menjadi rintangan paling berat. Ia bahkan harus tertahan selama 1,5 jam karena ada truk yang tersangkut di depannya. Di tengah kegelapan hutan dan dinginnya malam, Mujadi hanya bisa menunggu dan berdoa agar rintangan di depannya segera teratasi.
Setelah berjibaku dengan tanjakan dan lumpur, ambulans harus menyeberangi Sungai Wahau menggunakan perahu penyeberangan tradisional atau tambangan menuju Long Seger. Perjalanan yang normalnya bisa ditempuh dalam 8 jam, membengkak menjadi 13 jam perjuangan tanpa henti.
“Sampai di rumah duka sekitar jam 01.30 dini hari. Badan rasanya remek (hancur),” ungkapnya.
Meski raga kelelahan, tugas belum usai. Usai sahur pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 05.00 WITA, Mujadi memutuskan langsung bertolak pulang ke Samarinda. Kali ini ia memilih jalur Muara Bengkal tembus Sebulu karena air sudah mulai surut, meski lumpur masih menjadi teman setia sepanjang jalan.
Ia tiba kembali di Samarinda pukul 13.30 WITA. Bagi Mujadi, perjalanan ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah pengabdian terakhir bagi mereka yang telah tiada, memastikan sang jenazah sampai di tempat peristirahatan terakhirnya, meski harus menembus rimba dan lumpur Kalimantan yang tak kenal ampun.(mn)
Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya
Gabung Sekarang



