Adat Mappenre Dui dan Mappacci, Tradisi Suku Bugis Menjelang Pernikahan
PALU – Upacara adat Mappenre dui’ dan Mappacci adalah bagian dari adat pernikahan suku Bugis. Biasanya dilaksanakan menjelang hari pernikahan tidak hanya dilakukan oleh suku Bugis yang berdomisili di Sulawesi Selatan. Tetapi juga tradisi ini melekat sebagai upacara adat masih dijalankan oleh suku Bugis yang merantau jauh dari tanah leluhurnya.
Demikian juga dengan keluarga Dahlan perantau asal Makkasar yang bertahun-tahun telah tinggal dan menetap di kelurahan Poboya, kecamatan Mantikulore, Kota Palu masih mempertahankan tradisi dari masyarakat suku Bugis ini.
Dahlan yang menikahkan putrinya bernama Ayu Insani dengan seorang pemuda asal Pemalang Jawa Tengah bernama Sigit Purnomo juga melaksanakan adat mappacci pada Sabtu (21/6/2025) di Desa Poboya kecamatan Mantikulore Kota Palu, sekitar 6 km dari pusat kota Palu.
Tujuan dari prosesi Mappacci menurut Hj. Suryani yang dituakan di Poboya menjelaskan tujuan adat ini menyucikan diri agar siap menempuh hidup baru. “Prosesi tersebut biasanya berlangsung di rumah masing-masing, yakni rumah calon mempelai wanita dan rumah calon mempelai pria. Namun karena calon pengantin pria berasal dari luar daerah sehingga pelaksanaan mappacci dilaksanakan dalam satu tempat secara bergantian di rumah mempelai wanita.” jelas Hj. Nani panggilan akrab Suryani, saat pelaksanaan ritual mappacci, Sabtu malam (21/6/2025).
RITUAL MAPPACCI

Mappacci dilakukan pada malam hari, sebelum akad nikah di hari esok. Calon mempelai yang telah dirias layaknya pengantin, didudukan di atas pelaminan dan didampingi oleh juru rias. Mappacci dilakukan dengan cara meletakkan daun pacci (daun pacar) di telapak tangan calon mempelai.
“Jumlah orang yang meletakkan pacci ke tangan calon mempelai disesuaikan dengan stratifikasi sosial calon mempelai, misalnya 2×7 atau 2×9. Keluarga ayah dan ibu harus seimbang.” tambah Nahnur tokoh sesepuh perempuan di Poboya.
Di depan pengantin, jelas Nahnur, diletakkan bantal yang dilapisi dengan daun sirih. Kedua tangan pengantin diletakkan di atas bantal dan daun sirih tersebut. Tujuannya, agar dapat menerima daun pacci yang akan diberikan oleh orang-orang.
Setelah itu, diambil sedikit daun pacci yang telah dihaluskan, lalu diletakkan ke tangan calon mempelai. Pertama, ke telapak tangan kanan dan lanjut ke telapak tangan kiri. Setelah itu, lanjut ke jidat dan disertai dengan doa agar calon mempelai kelak dapat hidup dengan bahagia.
ADAT MAPPENRE DUI’

Tradisi Mappenre Dui’ “Dui’ Menre Sompa” atau “Mappenre Dui'”. Kata “dui'” berarti uang, “menre” berarti naik atau dinaikkan, dan “sompa” adalah pemberian.
Tujuan diadakan Mappenre Dui’: adalah untuk membantu membiayai perayaan pernikahan, termasuk biaya pesta, penyewaan tempat, konsumsi, dan lain-lain
Mappenre dui’ adalah adat yang dianggap sebagai simbol kesiapan pihak laki-laki untuk membina rumah tangga serta menghormati keluarga perempuan.(mn)
Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya
Gabung Sekarang

