Buku Muatan Lokal Kaltim Fase F Siap Terbit, Uji Keterbacaan Capai Hasil Memuaskan
Samarinda – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memastikan penyusunan Buku Muatan Lokal (Mulok) Fase F untuk siswa kelas XII SMA telah memasuki tahap akhir. Setelah melalui uji keterbacaan, hasilnya dinilai sangat baik dan siap untuk proses pencetakan.
Sub Koordinator Kurikulum dan Penilaian SMA Disdikbud Kaltim, Atik Sulistiowati, menjelaskan bahwa uji keterbacaan dilakukan terhadap tiga ranah utama, yakni Sumber Daya Alam, Seni Budaya, dan Bahasa Daerah. Ketiganya memperoleh hasil memuaskan.
“Ranah Sumber Daya Alam memperoleh nilai 93 persen, Seni Budaya 97 persen, dan Bahasa Daerah 95 persen. Artinya, seluruh buku sudah siap cetak setelah perbaikan dan masukan dari publik maupun penelaah,” ujar Atik (14/11/2025).
Ia menjelaskan, penyusunan buku muatan lokal ini telah melalui proses panjang sejak 2022. Tahun pertama fokus pada penyusunan kurikulum dasar, tahun 2023 disusun untuk kelas X, tahun 2024 untuk kelas XI, dan tahun 2025 untuk kelas XII.
“Kami targetkan naskah final rampung bulan ini agar buku sudah bisa digunakan mulai tahun pelajaran 2026,” tambahnya.
Atik berharap, buku muatan lokal ini menjadi sarana untuk menanamkan kebanggaan terhadap identitas daerah.
“Kami ingin peserta didik mengenal lebih dalam tradisi, potensi, dan budaya Kaltim,” tegasnya.
Sementara itu, penelaah buku, Dr. Yuni Utami, menilai penyusunan buku muatan lokal Kaltim merupakan langkah konkret dalam memperkuat karakter pelajar berbasis kearifan lokal.
“Kaltim menetapkan tiga ranah utama Bahasa Daerah, Sumber Daya Alam, dan Seni Budaya karena dianggap paling merepresentasikan identitas daerah,” jelasnya.
Yuni mengungkapkan, proses penyusunan dilakukan secara kolaboratif melalui empat kali pertemuan setiap tahun. Akademisi, komunitas budaya, serta penutur asli bahasa daerah turut dilibatkan agar isi buku benar-benar relevan dengan konteks lokal.
“Khusus buku Bahasa Daerah, prosesnya lebih kompleks karena harus melalui penerjemahan oleh penutur asli,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski setiap daerah memiliki kekhasan cerita rakyat yang berbeda, penyusunan dilakukan dengan prinsip keberagaman yang seimbang.
“Kami tampilkan kekayaan masing-masing tanpa mencampur, agar identitas tiap daerah tetap terjaga,” tutupnya.(ct/ADV/Diskominfo)
Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya
Gabung Sekarang



