DKP Kaltim Dorong CBIB, Nila Loa Kulu Siap Tembus Pasar Modern
Samarinda – Tuntutan pasar modern akan produk perikanan yang aman, berkualitas tinggi, dan terjamin standar produksinya kini menjadi fokus utama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur.
DKP Kaltim secara masif mendorong penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) sebagai standar produksi utama bagi seluruh pembudidaya ikan nila di Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Langkah strategis ini bertujuan ganda yaitu meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus memperluas jangkauan pasar bagi komoditas perikanan budidaya Kaltim.
Kepala DKP Kaltim, Irhan Hukmaidy, menjelaskan bahwa di era konsumen yang semakin selektif, CBIB bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mutlak untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
“CBIB menjadi fondasi utama agar hasil panen pembudidaya memenuhi standar mutu, aman dikonsumsi, dan dapat menembus pasar yang lebih luas, baik antar-daerah maupun untuk industri pengolahan,” ujar Irhan di Samarinda.
Dirinya menegaskan pentingnya sertifikasi dan mutu dalam perdagangan modern.
Menurut Irhan, peningkatan kualitas produk menjadi sebuah keharusan, mengingat besarnya kontribusi Loa Kulu sebagai sentra produksi ikan nila terbesar di Kaltim.
Dengan kapasitas produksi yang melampaui 10 ribu ton per tahun, wilayah ini memegang peran vital. Konsistensi mutu harus dijaga agar produk tetap kompetitif di pasar regional.
“Pasar terus berkembang dan semakin selektif. Dengan standar CBIB, produk nila dari Loa Kulu bisa memiliki nilai jual lebih tinggi dan mampu bersaing dengan daerah lain,” jelasnya.
Pihaknya juga menyoroti manfaat ekonomi langsung dari penerapan standar mutu.
Selain dampak langsung pada nilai jual, CBIB juga memainkan peran krusial dalam menjaga kualitas lingkungan budidaya.
“Melalui standar ini, para pembudidaya diajarkan metode pengelolaan yang benar dan higienis, mulai dari manajemen pakan, kualitas air, sanitasi keramba, hingga teknik panen yang tepat,” ungkap Irhan.
Penerapan ini secara otomatis membantu meminimalkan risiko kematian ikan yang sering terjadi akibat fluktuasi kualitas air saat musim kemarau maupun banjir.
“CBIB bukan sekadar standar, tetapi solusi praktis bagi pembudidaya untuk menjaga kesehatan ikan dan mencegah kerugian,” kata Irhan.
Untuk mendukung keberhasilan penerapan CBIB, DKP Kaltim juga mulai memperkenalkan dan memfasilitasi penggunaan teknologi pendukung.
“Ini termasuk penyediaan alat pemantau kualitas air, aerator hemat energi, dan metode manajemen pakan yang lebih efisien,” sebut dia.
Teknologi ini dirancang untuk melengkapi CBIB, memastikan proses budidaya berjalan lebih profesional, ilmiah, dan adaptif terhadap perubahan lingkungan.
Dengan sinergi antara teknologi dan standar mutu CBIB yang diterapkan, DKP Kaltim optimis bahwa kualitas hasil panen akan meningkat drastis, yang pada akhirnya akan membawa keuntungan yang lebih baik bagi pembudidaya.
”Di Kecamatan Loa Kulu, terdapat sebanyak 1.057 rumah tangga perikanan budidaya yang sepenuhnya menggantungkan penghidupan mereka pada sektor ini,” imbuh Irhan.
Penerapan CBIB diyakini akan berdampak langsung pada kesejahteraan mereka melalui peningkatan nilai jual dan peluang pasar yang lebih besar.
“Kita ingin pembudidaya dapat menikmati hasil kerja keras mereka dengan nilai ekonomi yang lebih baik. CBIB membantu memastikan produk yang mereka hasilkan memenuhi permintaan pasar modern,” tegas Irhan.
Dengan konsistensi dalam penerapan CBIB, DKP Kaltim optimistis bahwa komoditas nila dari Loa Kulu tidak hanya akan menjadi tulang punggung pasokan lokal, tetapi juga mampu memperluas penetrasi pasar ke berbagai wilayah di Indonesia.
“CBIB adalah jalan menuju pasar yang lebih luas. Jika kualitasnya terjaga, produknya pasti dicari,” pungkas Irhan.
Dia menutup pernyataannya dengan penegasan bahwa mutu adalah kunci keberlanjutan sektor perikanan Kaltim.(ct/ADV/Diskominfo)
Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya
Gabung Sekarang



