Kisah Ujian PWI Tahun 1991 Masih Terngiang di Benak Ketua MPR RI, antara Kemanusiaan dan kecepatan Berita
JAKARTA – Sebuah momen reflektif terjadi di Gedung DPR/MPR, Senayan, pada Selasa (13/1/2026) sore. Di tengah kesibukannya memimpin lembaga tinggi negara, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menerima kunjungan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dalam suasana yang penuh kehangatan.
Bukan sekadar pertemuan formal, audiensi ini menjadi ajang “nostalgia perjuangan” bagi Muzani yang ternyata memulai kariernya dari dunia tinta dan suara.
Ujian Kemanusiaan di PWI Jaya
Ahmad Muzani mengenang kembali memori tahun 1991, saat dirinya duduk sebagai peserta ujian wartawan muda di PWI DKI Jakarta. Ada satu pertanyaan ujian yang hingga kini, 35 tahun kemudian, masih membekas kuat di benaknya.
“Salah satu pertanyaannya: jika saat meliput kita menemukan kecelakaan di jalan, mana yang didahulukan, membantu korban atau menulis berita?” kenang Muzani di hadapan pengurus PWI Pusat.
Tanpa ragu, Muzani muda kala itu memilih membantu korban terlebih dahulu. Baginya, kemanusiaan tidak boleh dikalahkan oleh kecepatan berita. Jawaban itulah yang membawanya lulus sebagai wartawan muda PWI dan memulai karier di majalah Amanah serta radio Ramako.
“Menjadi wartawan itu panggilan hati. Artinya, memilih mengatakan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. Sampai sekarang, hati saya masih wartawan,” tegas politisi senior tersebut.
WARTAWAN SEBAGAI PEJUANG BANGSA
Muzani mengingatkan kembali jati diri PWI yang lahir dari semangat Kongres 1946 di Solo. Ia menekankan bahwa dalam DNA PWI, wartawan adalah “pejuang” yang menempatkan pengabdian kepada negara di atas kepentingan pribadi.
Muzani juga menyinggung fenomena citizen journalism saat ini. Menurutnya, meskipun kini netizen dan konten kreator turut berperan dalam menyebarkan informasi, esensi pengawasan tetap sama. “Dari mereka kita tahu jika ada bantuan yang belum sampai atau penanganan yang belum optimal,” tambahnya.
Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, menyambut haru refleksi yang disampaikan Ketua MPR. Menurut Munir, nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran yang dipegang Muzani adalah ruh dari jurnalisme sejati yang terus dirawat oleh PWI sebagai “rumah besar” wartawan Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal PWI Pusat sekaligus Ketua Panitia Hari Pers Nasional (HPN) 2026, Zulmansyah Sekedang, secara resmi mengundang Ahmad Muzani untuk hadir pada puncak peringatan HPN 2026 di Provinsi Banten.
“HPN merupakan momentum refleksi bersama antara pers dan negara. Kehadiran Ketua MPR tentu menjadi penguat semangat bagi insan pers dalam menjalankan peran kebangsaannya,” ujar Zulmansyah.
Pertemuan tersebut ditutup dengan diskusi mengenai tantangan pers di era digital, dihadiri oleh jajaran pengurus pusat PWI lainnya, mulai dari Bendahara Umum Marthen Selamet Susanto hingga para ketua departemen. Pertemuan ini seolah menegaskan bahwa meski raga berada di kursi kekuasaan, jiwa jurnalisme Ahmad Muzani tidak pernah benar-benar pensiun.(kp/mn)
Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya
Gabung Sekarang



