Komisi IV DPRD Samarinda Minta Pengawasan Obat Lebih Ditingkatkan

0 1,808

Kaltimpedia.com, Samarinda – Anggota Komisi IV DPRD Samarinda Damayanti turut bereaksi imbas keluarnya imbauan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia tentang larangan penggunaan obat sirup bagi anak untuk sementara waktu.

Kebijakan ini berdasarkan temuan 206 kasus gagal ginjal akut pada anak di bawah usia lima tahun di Indonesia.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda Damayanti menyayangkan kasus gagal ginjal pada anak-anak dapat terjadi, apalagi ini berasal dari obat-obatan sirup yang dikonsumsi.

“Ini sangat disayangkan. Kenapa obat tersebut telah dipasarkan sejak lama, tetapi baru timbul isu seperti ini setelah adanya kejadian gagal ginjal,” ucapnya.

Damayanti mengungkapkan, dengan terjadi kasus ini membuktikan bahwa jika selama ini pengawasan obat, khususnya dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) masih kurang maksimal.

Ada sekitar kurang lebih 200 anak di Indonesia yang dilaporkan mengalami gangguan gagal ginjal dan hampir 100 anak meninggal akibat kasus tersebut.

“Berarti proses pengawasan obat itu sangat kurang, mentang-mentang obat itu beredar kemudian sudah mendapatkan izin tidak dilakukan tindak lanjut lagi dalam pengawasan,” tegas Damayanti.

Damayanti menjelaskan DPRD Samarinda terus memantau keputusan dari pemerintah pusat untuk mengawasi peredaran obat-obat tersebut dan jangan sampai imbauan dari pusat untuk tidak mendistribusikan obat tersebut masih dilakukan atau di perjual belikan di apotek, toko dan swalayan.

“Ke depannya harus segera dilakukan sidak kepada apotek atau toko obat, apakah masih menjual obat-obat yang dirasa berbahaya sehingga tidak beredar lagi di masyarakat,” Pungkasnya

Ia berharap apotek yang menjualkan obat atau para orang tua yang membeli obat untuk anaknya dapat mengetahui merk obat mana saja yang dilarang peredarannya, sehingga kesehatan anak-anak dapat terjaga dan bisa berkonsultasi kepada dokter dalam melakukan penanganan kesehatan. (aji/adv/dprdsamarinda)

Leave a comment