Pansus Kelistrikan Sambangi Universitas Udayana dan PLTS Bangli

0 996

Kaltimpedia.com, Bali – Masih fokus untuk mengedepankan Energi Baru Terbarukan (EBT), Pansus Kelistrikan yang diketuai Anggota DPRD Kaltim Sapto Setyo Pramono baru-baru mengunjungi Universitas Udayana dan PLTS Bangli di Provinsi Bali. Didampingi oleh Dinas terkait, kunjungan pada 12-15 April tersebut Pansusnya mendapat sejumlah masukan, potensi dan resiko penggunaan EBT.

“Hasil pertemuan di Universitas Udayana (Unud), Fakultas Tenik Informasi yang menangani perihal masalah EBT bahwa ebt yang ada di Bali, adalah hasil dari Kementerian ESDM Ditjen EBTKE (Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi),  dana semua dari Kementerian,” ungkapnya.

“Universitas ini memiliki PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) menggunakan turbin yang berada di Rooftop, sayangnya hanya 3 dari 10 pembangkit listrik berjenis kincir angin dengan kapasitas 5000watt yang berfungsi, tidak maksimal,” tambahnya.
 
Selain itu, Ketidakmaksimal lain menurut Sapto, yaitu bantuan yang didapat tahun 2016 itu belum dibuatkan berita acara serah terimanya. Padahal menurut Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Kalimantan Timur ini, semestinya jika ingin memaksimalkan ini harus diproses serah terima barang tersebut ke Unud.

“Sehingga pemkab atau pemprov setempat semestinya bisa segera membantu proses serah terima barang tersebut harus. Tanpa serah terima tentu perawatan, perbaikan, serta maintenance akan terkendala,” ujarnya.

Selanjutnya, sebagaimana diketahui bahwa Provinsi Bali telah mengendalikan PLTS yang sudah cukup lama di daerah Bangli. Saat mengunjungi PLTS di Bangli dengan kapasitas 1 megawatt (MW) yang menggunakan panel lama dengan kapasitas per panel 200 watt, Sapto menilai bahwa memang model panel tersebut kapasitasnya jauh lebih kecil dengan panel yang terbaru saat ini yang mencapai hingga 500 watt/panel.

“Dengan semakin majunya jaman semakin ringkas dan meningkat daya serap panel yang terbaru. Sementara sistem di Bangli sudah dikerjasamakan dengan perusda dan PLN,  namun kita belum tau persis biaya operasionalnya seperti apa, namun menurut informasi sistem kerjasamanya  COD bahwa ada sistem impor dan ekspor,” Paparnya.

Hanya saja informasi dilapangan bahwa dari PLTS Bangli yang ada lalu dijual ke PLN seharga Rp 700, kemudian dijual lagi ke pelanggan dengan harga Rp 2400.

“Kita perlu pelajari lebih lanjut seperti apa kalkulasi biaya produksi, biaya perawatan dan sebagainya serta bagaimana sisi keuntungannya. Yang terpenting bahwa penggalakan EBT di Bali sudah satu langkah lebih maju walaupun perda belum ada, bahkan Bali berlandaskan Pergub Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih,” pungkasnya. (Kmf/adv/Aji)

Leave a comment