Kaltimpedia
Beranda Samarinda Setiap Saat Ambulance Emergency Dibutuhkan, Ini Peralatan minimal yang harus tersedia

Setiap Saat Ambulance Emergency Dibutuhkan, Ini Peralatan minimal yang harus tersedia

dr. Abdul Haris specialist anestesi RSU Hermina Samarinda saat menyampaikan materi BHD dan evakuasi korban di Pelatihan BHD dan Pertolongan pertama pada korban kecelakaan bagi relawan ambulance gelaran manajemen RSU Hermina Samarinda.

SAMARINDA – Jika terjadi keadaan darurat di masyarakat, seperti ada kecelakaan, warga mengalami serangan jantung, tidak sadarkan diri secara tiba-tiba, atau serang stroke mendadak yang dicari warga masyarakat adalah Ambulance.

“Segera luncurkan ambulance terdekat,” biasanya begitu suara pengirim video di group-group WhatsApp.

Keperluan ambulance Emergency sangat sering diperlukan setiap saat. “Untuk hari ini (Minggu 24/8/2025) saja di group relawan ambulance EMT-ITS ada 4 kejadian memerlukan ambulance dari pukul 00.00 hingga pukul 22.30,” jelas Yusuf Reza relawan Ambulance MDMC Kaltim.

Usamah Bima Shafa, Relawan Ambulance PWI Kaltim Peduli.

Informasi memerlukan ambulance Emergency yang dishare di group WhatsApp EMT-ITS pada pukul 02.22 WITA terjadi laka lantas di Bukit Soeharto, pada pukul 11.00 WITA, terjadi laka lantas di jalan KH Samanhudi (Wisma Citra), jam 17.40 laporan kecelakaan di Simpang Alaya – DI Panjaitan Sungai Pinang, pukul 21.16 WITA terjadi laka lantas di Jalan Wahid Hasyim 2 Sempaja. Kesemuanya meminta ambulance.

Cukup tingginya kejadian memerlukan ambulance Emergency menjadi perhatian dr. Abdul Haris specialist anestesi RSU Hermina Samarinda yang hadir sebagai narasumber di Pelatihan Bantuan Hidup Dasar dan Pertolongan pertama pada korban kecelakaan bagi relawan ambulance gelaran manajemen RSU Hermina Samarinda, Minggu (24/8/2025).

Ia berharap dalam ambulance Emergency minimal ada 2 orang Crew ambulance, lebih baik lagi 3 orang dan lebih penting adalah peralatan penunjang di dalam ambulance harus tersedia.

dr. Abdul Haris specialist anestesi RSU Hermina Samarinda.

“Paling tidak di ambulance harus ada Scopp scharcher, Tabung Oksigen dan regulatornya harus ada, alat bantu nafas seperti Bag valve mask (BVM) atau Ambubag, sarung tangan latek, bidai (spalek), kain kasa gulung, nech collar leher (penjaga leher), oksimeter untuk mengukur denyut nadi, kandungan oksigen dalam darah, peralatan P3K, minimal itu yang harus ada di ambulance,” jelas dr. Abdul Haris specialist anestesi RSU Hermina Samarinda, Minggu (24/8/2025) seusai memberikan materi.

Lebih lanjut dr Habis mengingatkan kembali agar para relawan dalam memberi pertolongan kepada korban kecelakaan ataupun kegawatdaruratan harus perhatian 3 aman. “Penolong harus perhatian 3 aman, yaitu amankan diri dulu, amankan korban dan amankan lingkungan. Jika kita akan menolong dengan memberikan bantuan nafas, kemudian korban ternyata diketahui punya riwayat TBC maka hindari, harus cari cara aman agar tidak tertular, misal menggunakan Ambubag,” jelasnya.

Dalam waktu satu jam pencarian korban tenggelam di Danau Pertalite km 13 Balikpapan Utara berhasil ditemukan Tim SAR Batalyon C Pelopor.

Saat melakukan evakuasi korban posisi penolong itu usahakan selalu di samping untuk memantau kondisi denyut jantungnya, dan di kepala untuk mengecek kesadarannya, mengecek denyut nadinya.

“Dalam melakukan evakuasi korban atau memindahkan korban ke lingkungan yang lebih aman, penolong juga harus perhatikan tujuan Evakuasi yaitu untuk mencegah bertambahnya jumlah korban meninggal, mengurangi resiko sakit yang lebih parah, mencegah memburuknya kondisi korban, dan menjauhi korban dari sumber bencana.” jelasnya lebih lanjut.

Alumni kedokteran Unhas ini pun mengingatkan agar Relawan Ambulance dalam melakukan evakuasi juga harus ikuti panduan saat mengangkat korban.

“Penolong harus mengenali dirinya dulu, mampu tidak untuk melakukan tindakan menolong. Jika mampu sebelum mengangkat korban posisi harus jongkok jangan membungkuk, dilakukan secara bersama-sama, gunakan komando saat mengakat. Kedua kaki berjarak sebahu kira, satu kaki agak sedikit ke depan, tangan yang memegang menghadap ke depan, dan tubuh sedekat mungkin dengan dengan beban/korban,” terangnya lebih lanjut.

Dokter Abdul Haris mengingatkan relawan jika tidak mampu atau tidak kuat jangan pernah paksakan untuk menolong. “Nanti malah kita yang di tolong orang. Tidak usah malu, terus terang saja jika kondisi tidak mampu,” pungkasnya.

Tim SAR Batalyon C Pelopor Balikpapan Berhasil saat proses evakuasi korban tenggelam di danau pertalite Balikpapan Utara.

Sementara itu Usamah Bima Shafa relawan ambulance PWI Kaltim Peduli mengungkapkan saat usai memberikan pemaparan dibalik sirane kelengkapan yang dimiliki ambulancenya sudah sesuai yang diharapkan dr Abdul Haris. “Di ambulance PWI Kaltim Peduli apa yang disampaikan dr Abdul Haris semuanya tersedia. Kami juga ada oksigen portable, Namun demikian ada alat yang belum terjangkau untuk penyediaan antara lain alat EAD, dan pasien monitor portable, harganya mahal,” jelasnya.

AED (Automated External Defibrillator) atau Defibrilator Eksternal Otomatis adalah alat medis portabel yang dapat menyelamatkan nyawa dengan memberikan kejutan listrik secara otomatis kepada seseorang yang mengalami henti jantung mendadak.

“Yang terpenting dalam melakukan penanganan kegawatdaruratan kita harus tenang, tidak usah terpengaruh dengan suara kanan kiri, lakukan step by step sesuai ilmu yang kita dapat di pelatihan demi keselamatan dan menjaga kefatalan pasien,” pungkasnya.(mn)

Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya

Gabung Sekarang
Komentar
Bagikan:

Iklan