TPT Kaltim Naik Tipis Jadi 5,18 Persen, Tantangan Kualitas Kerja Kian Menguat
Samarinda – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur (Kaltim) merilis data terbarunya terkait kondisi ketenagakerjaan di Bumi Etam. Per Agustus 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat mencapai 5,18 persen.
Angka ini menunjukkan kenaikan tipis sebesar 0,04 persen poin dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, mengindikasikan bahwa laju penyerapan tenaga kerja belum optimal di tengah dinamika ekonomi regional.
Kenaikan TPT ini disertai dengan menurunnya jumlah penduduk yang bekerja. Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menjelaskan bahwa penurunan jumlah ini perlu menjadi perhatian serius.
“Angka tersebut berarti dari setiap 100 orang angkatan kerja, masih ada sekitar lima hingga enam orang yang belum memiliki pekerjaan tetap,” katanya (18/11/2025).
Lebih lanjut, Yusniar juga menyoroti penurunan jumlah pekerja secara keseluruhan. “Jumlah penduduk bekerja di Kaltim tercatat 1,96 juta orang, atau berkurang sekitar 6.700 orang dibandingkan Agustus 2024,” ungkapnya.
Struktur lapangan kerja di Kaltim masih didominasi sektor padat karya dan perdagangan, sementara sektor vital penyerap tenaga kerja tergolong kecil.
“Struktur lapangan kerja di Kaltim masih didominasi sektor perdagangan besar dan eceran, serta reparasi kendaraan bermotor, dengan kontribusi 19,05 persen atau setara 375 ribu pekerja,” ungkap Yusniar.
Yusniar juga menyampaikan, bahwa data TPT berdasarkan pendidikan menunjukkan adanya kesenjangan yang mencolok. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menduduki peringkat teratas kelompok pengangguran.
“Lulusan SMK masih menjadi kelompok dengan pengangguran tertinggi di Kaltim, yakni 7,72 persen,” tuturnya.
Hal ini, kata Yusniar, dinilai Kontras, lulusan SD ke bawah menjadi kelompok yang paling sedikit menganggur, hanya 2,48 persen.
Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah tren kenaikan pengangguran pada tingkat pendidikan tinggi, yang mengindikasikan adanya mismatch antara output pendidikan dan kebutuhan industri.
“Kenaikan pengangguran justru terlihat pada lulusan SMA (naik 0,38 persen poin) dan universitas (naik 1,35 persen poin),” imbuh Yusniar.
Yang mana, kenaikan tajam pada lulusan universitas menunjukkan bahwa diperlukan peninjauan ulang terhadap kurikulum dan program upskilling yang relevan dengan kebutuhan industri hilirisasi dan digitalisasi di Kaltim.
Selain TPT, Yusniar menyebutkan, bahwa BPS Kaltimjuga menyoroti peningkatan drastis dalam fenomena setengah pengangguran (underemployment), yaitu pekerja yang sudah memiliki pekerjaan namun merasa belum mendapat jam kerja atau pekerjaan yang ideal.
BPS mencatat bahwa tren setengah pengangguran ini terus naik signifikan dalam dua tahun terakhir.
“Dalam dua tahun terakhir, tingkat setengah pengangguran naik 1,17 persen poin (2023–2024) dan kembali naik 1,05 persen poin pada 2025,” ungkapnya.
Hal ini menjadi sinyal bahwa tantangan di Kaltim kini beralih dari sekadar menciptakan kuantitas pekerjaan menjadi peningkatan kualitas dan kecocokan pekerjaan.
Meski demikian, terdapat data positif yang ditunjukkan oleh gender. BPS Kaltim juga mencatat, tingkat pengangguran perempuan turun 0,78 persen poin dibandingkan tahun lalu.
Meskipun TPT laki-laki tercatat sedikit lebih tinggi (5,21 persen) dan mengalami kenaikan, penurunan TPT perempuan menunjukkan keberhasilan dalam penyerapan tenaga kerja wanita.
Data BPS ini diharapkan menjadi pijakan bagi Pemerintah Provinsi dan stakeholder terkait untuk merancang intervensi kebijakan yang lebih terfokus, memastikan bahwa investasi SDM yang tinggi di Kaltim melalui program pendidikan dapat menghasilkan angkatan kerja yang benar-benar siap mengisi pos-pos pekerjaan strategis di tengah peran Kaltim sebagai penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN).(ct/ADV/Diskominfo)
Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya
Gabung Sekarang



