Kaltimpedia
Beranda Nasional Bunda Mey Berpulang, Kaltim Kehilangan Sosok Motivator dan Birokrat Perempuan Legendaris

Bunda Mey Berpulang, Kaltim Kehilangan Sosok Motivator dan Birokrat Perempuan Legendaris

SAMARINDA – Selasa (7/4/2026) petang, saat azan Magrib baru saja berkumandang menyapa Kota Tepian, sebuah kabar duka merayap cepat, menyelimuti Kalimantan Timur dengan rasa kehilangan yang mendalam. Hj. Meiliana binti H. Muhammad Adnan Sabirin, sosok birokrat perempuan legendaris yang akrab disapa Bunda Mey, telah berpulang ke Rahmatullah pada usia 67 tahun.

Bunda Mey mengembuskan napas terakhirnya pukul 18.00 WITA di kediamannya, Perumahan Carpotek, Sungai Kunjang. Kepergiannya yang mendadak mengejutkan banyak pihak, termasuk rekan-rekannya di Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Kaltim.

“Malam sebelumnya sekitar jam 10 malam kami masih saling berkirim pesan WhatsApp. Badan saya sampai bergetar, tidak percaya beliau yang tampak begitu sehat berpulang secepat ini,” kenang Hj. Nani Heriyani, Bendahara BKOW, dengan nada lirih.

DARI HONORER MENUJU PUNCAK “LAMIN ETAM”

Kisah hidup Bunda Mey adalah sebuah epos tentang ketekunan. Lahir di Samarinda, 9 Mei 1959, garis nasibnya tidak didapatkan dengan instan. Ia memulai langkah di dunia birokrasi pada tahun 1985 sebagai tenaga honorer proyek di Bappeda Kaltim. Siapa sangka, jemari yang dulunya menyusun dokumen proyek itu, kelak akan menandatangani kebijakan-kebijakan strategis provinsi.

Kariernya melesat bak meteor, namun berpijak pada kedisiplinan yang membumi. Dari urusan protokol, humas, hingga memimpin LAN Samarinda, semua dijalaninya dengan totalitas. Puncaknya terjadi pada 8 Maret 2018. Di bawah atap Lamin Etam, ia dilantik oleh Gubernur Awang Faroek Ishak sebagai Penjabat (Pj) Sekretaris Provinsi Kaltim.

Pelantikan itu bukan sekadar seremoni. Tanggal tersebut bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, dan Bunda Mey mencatatkan tinta emas sebagai perempuan pertama yang menduduki jabatan Sekprov sepanjang sejarah berdirinya Kalimantan Timur sejak 1956. Ia mendobrak tradisi, membuktikan bahwa kursi tertinggi ASN di Bumi Etam tak hanya milik laki-laki.

Sosok Guru yang Gemar Bercanda
Di mata para bawahannya, Bunda Mey adalah kombinasi langka antara ketegasan dan keceriaan. Syarifah Alawiyah, Kabiro Adpim Setdaprov Kaltim, mengenangnya bukan sekadar sebagai atasan, melainkan guru kehidupan.

“Beliau guru dan motivator saya. Orangnya selalu ceria, suka bercanda, dan sangat senang traveling,” ujar Syarifah. Ia teringat sebuah nasihat jenaka namun sarat makna dari almarhumah tentang seni berbagi ilmu.

“Bunda pernah berpesan, kalau mengajar itu jangan langsung semua ilmunya dikeluarkan. Sedikit-sedikit saja, supaya peserta cepat pintar dan kita dipanggil lagi,” kenangnya sembari tersenyum getir mengingat gurauan sang mentor.

Warisan yang Takkan Terhapus
Dedikasi Bunda Mey terekam jelas dalam bentang infrastruktur Kaltim. Ia adalah salah satu penggerak utama di balik layar yang memastikan Bandara APT Pranoto Samarinda rampung dan bisa dinikmati masyarakat. Tak hanya itu, pengabdiannya sebagai Pj Wali Kota Samarinda (2015-2016) serta kepeduliannya pada UMKM dan pemberdayaan perempuan menjadikannya figur yang utuh.

Hingga akhir hayatnya, ia masih aktif mengabdi, termasuk memimpin Tim Percepatan Pengembangan Maratua. Kisah hidupnya yang bermula dari “bawah” hingga mencapai “puncak” telah dibukukan dalam sebuah biografi, sebuah warisan literasi agar generasi muda Kaltim berani bermimpi setinggi langit.

Malam ini, rumah duka di Karang Asam Ulu dipenuhi pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Kaltim kehilangan seorang putri terbaiknya, seorang pendobrak sejarah, dan seorang ibu bagi para ASN.

Selamat jalan, Bunda Mey. Terima kasih atas setiap dedikasi dan senyum ceria yang pernah kau titipkan untuk Bumi Etam. Jasa-jasamu akan tetap hidup, meski ragamu kini telah beristirahat dalam damai.(mn)

Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya

Gabung Sekarang
Komentar
Bagikan:

Iklan