Mengukir Sejarah di Atas Kain: Kaltim Dorong Wastra Tradisional Menjadi Kekuatan Utama Ekonomi Kreatif Daerah
Samarinda – Kekayaan warisan tekstil tradisional (wastra) Kalimantan Timur (Kaltim) merupakan salah satu potensi yang sangat besar dan harus terus didorong menjadi kekuatan budaya sekaligus motor penggerak ekonomi kreatif daerah.
Pemerintah Provinsi Kaltim berkomitmen penuh untuk mengangkat identitas visual lokal ke kancah nasional dan global, sekaligus memberdayakan para perajin dan UMKM setempat.
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Sri Wahyuni, menyatakan bahwa Kaltim memiliki ragam wastra yang kualitas dan keunikannya tidak kalah dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.
Kekayaan ini mencakup tenun ikonik seperti Tenun Doyo, Badong Tencep, Kriong, hingga Sarung Samarinda yang telah lama dikenal luas.
“Kaltim memiliki harta karun berupa wastra yang luar biasa. Bukan hanya tenun, tetapi seluruh 10 kabupaten/kota di Kaltim kini juga memiliki keunikan batik masing-masing yang terus berkembang,” ujar Sri Wahyuni (16/11/2025).
Keberagaman motif ini menjadi aset tak ternilai. Dirinya mencontohkan Kabupaten Kutai Kartanegara yang kaya dengan varian motif batik seperti Melayu Kutai, Grecek, Pucuk Tegaron, hingga Paku Raja. Keragaman visual dan filosofi lokal juga terlihat jelas di Samarinda, Balikpapan, Kutai Barat, Mahakam Ulu, hingga Berau, yang masing-masing menghadirkan ciri khas yang unik.
Salah satu wastra yang menjadi sorotan utama adalah batik Kutai Timur bernama “Wakaroros”.
“Batik ini secara brilian mengangkat motif tapak tangan yang diambil dari relief dinding gua prasejarah di kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat,” ungkap Sri Wahyuni.
Relief gua tersebut diperkirakan memiliki usia mencapai 40.000 tahun, menjadikannya salah satu jejak seni tertua di dunia. Melalui wastra, warisan sejarah yang monumental ini kini diwujudkan menjadi identitas visual batik Kaltim.
“Kalau ini diperkenalkan, bukan hanya memperkenalkan wastra semata, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang nilai sejarah tinggi yang terkandung di dalamnya. Batik Wakaroros menjadi narasi bergerak tentang peradaban purba Kaltim,” tegas Sri Wahyuni.
Karya yang sarat nilai sejarah dan filosofi ini bahkan telah sukses tampil pada pagelaran bergengsi Indonesia Fashion Week, sebuah pencapaian yang secara efektif memperkenalkan nilai historis Kaltim ke tingkat nasional melalui industri fesyen.
Pemerintah Provinsi Kaltim menaruh harapan besar agar ekosistem ekonomi kreatif di sektor fesyen semakin berkembang pesat.
“Kepercayaan diri para perajin lokal untuk membawa identitas daerah ke pasar yang lebih luas menjadi kunci utama,” ucap Sri Wahyuni.
Wastra Kaltim diharapkan tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Untuk mencapai hal ini, Pemprov Kaltim aktif mendorong kolaborasi yang sinergis antara desainer muda Kaltim, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perajin, serta pelaku industri kreatif. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa warisan wastra tidak hanya lestari secara tradisional, tetapi juga mampu berinovasi dan relevan dengan tren pasar modern.
Langkah ini merupakan komitmen nyata Pemprov Kaltim dalam memanfaatkan kekayaan budaya sebagai basis pembangunan ekonomi kreatif yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat identitas kebanggaan masyarakat Kaltim.
“Dengan wastra sebagai duta daerah, Kaltim siap menorehkan sejarah baru di panggung fesyen nasional dan global,” pungkas Sri Wahyuni.(ct/ADV/Diskominfo)
Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya
Gabung Sekarang



