Kaltimpedia
Beranda Advetorial Program Metode UMI: Disdikbud Kutim Tambah Jam Pelajaran Mengaji di Sekolah

Program Metode UMI: Disdikbud Kutim Tambah Jam Pelajaran Mengaji di Sekolah

Kaltimpedia, Kutai Timur – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur meluncurkan program penguatan karakter religius melalui penerapan metode UMI di sekolah negeri.

Program ini dirancang untuk memberikan tambahan dua jam pelajaran mengaji bagi siswa muslim. Langkah ini merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan literasi Al-Qur’an sejak dini di lingkungan sekolah formal.

​Program ini akan diterapkan secara merata di tingkat SD dan SMP di wilayah Sangatta Utara dan Sangatta Selatan dengan melibatkan sekitar 40 sekolah.

Saat ini, proses rekrutmen tenaga pendidik khusus metode UMI tengah berjalan. Para guru yang terpilih nantinya tidak langsung mengajar, melainkan harus melewati tahap bimbingan teknis (Bimtek) agar memiliki standar pengajaran yang seragam.

​”Ada 40-an sekolah yang akan melaksanakan pembelajaran UMI. Sekarang sudah mulai pengumuman penerimaan gurunya, bisa dilihat di Facebook. Nanti gurunya mendaftar dan akan diberikan Bimtek langsung oleh pihak UMI,” kata Mulyono.

​Pemerintah menjamin bahwa program ini tidak hanya eksklusif bagi satu agama saja. Bagi siswa non-muslim, Disdikbud juga menyiapkan ruang yang sama melalui program Kecintaan Alkitab.

Pengawasan dan pembinaan untuk siswa non-muslim dikoordinasikan oleh pengawas khusus guna memastikan semua anak mendapatkan hak pendidikan keagamaan yang berkualitas sesuai keyakinannya masing-masing.

​Integrasi metode UMI ke dalam kurikulum sekolah negeri ini diharapkan dapat dimulai secara efektif pada awal Desember mendatang.

Guru-guru yang telah lulus Bimtek akan segera bertugas dan mendapatkan honorarium yang bersumber dari anggaran dinas. Program ini juga didukung oleh fasilitas digital di sekolah, seperti penggunaan layar proyektor dan TV cerdas untuk mempermudah visualisasi pembelajaran.

​”Insya Allah awal Desember sudah mulai mengajar. Guru-gurunya nanti akan disiapkan dengan gaji dari dinas. Jadi anak-anak kita yang muslim belajar mengaji, dan yang non-muslim juga kita berikan ruang yang sama melalui kecintaan Alkitab,” tegas Mulyono.

​Program tambahan jam pelajaran ini dipandang sebagai solusi atas keresahan orang tua mengenai minimnya waktu pendidikan agama di sekolah reguler.

Dengan menambah dua jam pelajaran, diharapkan siswa tidak hanya sekadar bisa membaca secara teknis, tetapi juga memahami kaidah-kaidah dasar dengan benar. Pendekatan metode UMI dipilih karena dianggap efektif dan sudah teruji dalam mempercepat kemampuan literasi kitab suci.

​Melalui program ini, Disdikbud Kutim ingin menunjukkan bahwa pendidikan karakter dan spiritualitas berjalan beriringan dengan kemajuan digital.

Pemanfaatan teknologi di kelas akan tetap dikedepankan, namun nilai-nilai religiusitas tetap menjadi pondasi utama siswa. Dengan demikian, lulusan sekolah di Kutai Timur diharapkan memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kematangan spiritual yang baik.

​”Di sini juga ada yang mengkoordinir untuk teman-teman non-muslim, ada pengawas yang memberikan pembinaan. Intinya kita memberikan ruang yang sama untuk semua agama dalam penguatan karakter ini,” pungkasnya. (ADV)

Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya

Gabung Sekarang
Komentar
Bagikan:

Iklan