Saat Jenderal Sigit dan Wartawan Bagi Takjil Bersama, Perkuat Sinergi Lawan Hoaks AI dan Deepfake
JAKARTA – Pemandangan berbeda tampak di depan Gedung Rupatama Mabes Polri Rabu (25/2/2026) sore. Tidak ada barikade kaku atau pengamanan yang menjaga jarak; yang terlihat justru kehangatan saat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berdiri bahu-membahu bersama para jurnalis, membagikan bingkisan takjil kepada para pengguna jalan.
Kegiatan bagi-bagi takjil ini menjadi pembuka rangkaian silaturahmi antara Korps Bhayangkara dengan insan pers di bulan suci Ramadan. Tak pandang bulu, mulai dari pengendara mobil, motor, hingga pengemudi ojek online yang melintas disambut senyum hangat dan paket berbuka langsung dari tangan sang Jenderal dan para kuli tinta.
“Ini bagian dari upaya kita untuk terus menjaga tali silaturahmi, yang tentunya ini juga menjadi salah satu kekuatan kita,” ujar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di sela-sela kegiatan.
Suara Media adalah Kompas Polri
Usai berbagi kebaikan di jalanan, suasana berganti menjadi lebih akrab saat acara berlanjut ke agenda buka puasa bersama di dalam Gedung Rupatama. Di tengah meja panjang yang penuh kebersamaan, Jenderal Sigit menegaskan bahwa pers bukan sekadar peliput berita, melainkan mitra strategis sekaligus “kompas” bagi Polri.
Bagi Sigit, setiap berita yang ditulis jurnalis adalah representasi suara publik. Ia meyakini bahwa kritik dan informasi dari media adalah tolak ukur bagi Polri untuk segera berbenah dan merespons cepat keluhan masyarakat.
“Begitu media menyuarakan suara publik, artinya di situ jugalah kami harus segera bergerak. Kami menyadari bahwa suara media adalah suara publik yang harus didengar,” tegasnya di depan para pemimpin redaksi dan wartawan unit Polri.
Namun, di balik kehangatan sore itu, Kapolri juga menyelipkan pesan serius mengenai masa depan bangsa. Di era digital yang berlari kencang, ia menyoroti kemunculan teknologi Artificial Intelligence (AI) hingga Deepfake yang mulai melahirkan tantangan baru berupa misinformasi dan disinformasi.
Masalah informasi palsu ini, menurut Sigit, bukan lagi sekadar isu global, melainkan sudah masuk ke dalam urat nadi kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Di sinilah ia menaruh harapan besar pada pundak insan pers.
“Harapan kita, media sebagai alat kontrol dan penghubung terus bisa mewakili publik untuk menyuarakan harapan mereka. Kami menyadari media memiliki peran yang sangat luar biasa untuk turut menjaga stabilitas keamanan nasional,” paparnya.
Komitmen Penjaga Stabilitas
Acara ditutup dengan pesan kuat tentang persatuan. Di mata Kapolri, sinergi antara aparat penegak hukum yang responsif dan media yang akurat adalah fondasi utama Indonesia dalam menghadapi tantangan zaman.
“Dengan menyajikan informasi yang jujur dan tepercaya, media diharapkan menjadi benteng bagi masyarakat dari serangan hoaks, sekaligus menjadi jembatan agar institusi negara tetap berjalan di jalur yang diharapkan rakyat.” pungkasnya. (rls/mn)
Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya
Gabung Sekarang



