0 1,908

Kaltimpedia.com, Tenggarong — Badan Kesatuan Politik dan Bangsa Kutai Kartanegara (Kesbangpol Kukar) menggelar sosialisasi pencegahan penyebaran paham radikalisme dan bahaya terorisme di Kecamatan Loa Janan. Para tokoh agama, mahasiswa dan pelajar mengikuti kegiatan tersebut pada Kamis (3/11/2022).

Kesbangpol Kukar mengandeng Majelis Ulama Indonesia Kukar dan Kementerian Agama Kukar sebagai narasumber dalam sosialisasi itu.

Diketahui, radikalisme merupakan suatu pemahaman yang dibuat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan tatanan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara kekerasan.

Kecamatan Loa Janan merupakan perlintasan antar kabupaten dan juga pintu masuk ke wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Untuk itu perlu diwaspadai adanya paham radikalisme yang sering menebar teror tidak bertanggungjawab,” kata Kepala Badan Kesbangpol Kukar, Rinda Desianti.

Terorisme merupakan perbuatan yang dibenci oleh negara dan masyarakat karena melakukan teror dan dapat menimbulkan korban jiwa. Dimana, generasi muda menjadi target sasaran pemahaman-pemahaman yang bertentangan dengan ajaran agama.

“Inilah yang perlu diwaspadai bersama dimana sasaran yang mudah menyasar ke genarasi muda. Waspadai dan perangi paham yang merusak tatanan bangsa dan negara,” tambahnya.

Sementara Ketua MUI Kukar Abdul Hanan menjelaskan, politik yang menggunakan agama sangat berbahaya, seperti wahabi dan khilafatul muslimin mengangggap orang-orang yang tidak sepaham dianggap Thogut (sesuatu yang disembah atau ditaati selain Allah).

Orang yang selalu tidak senang kepada pemerintah selalu menyalahkan pemerintah. Sosialisasi ini sebagai perekat umat beragama berdasarkan pancasila, jika negara aman maka dapat membangun bangsa.

“Musuh bangsa sekarang ini adalah terorisme dan narkoba yang akan merusak pemuda dan generasi bangsa, untuk itu mari bersama-sama jaga NKRI,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kukar, Nasrun menjelaskan, sikap dan perilaku harus terus dijaga dengan baik dan tidak ekstrim. Karena musuh bersama umat beragama yaitu perilaku ekstrime akut, saling memusnahkan dan intoleransi.

“Untuk itu pentingnya bersama-sama saling menjaga martabat, mengelola perbedaan pemahaman, dan yang terpenting adalah moderasi beragama merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan baik tingkat lokal, nasional dan global,” tutupnya. (Dha/Adv)

Leave a comment