Kaltimpedia
Beranda Mancanegara Hadapi Ketidakpastian Global, Menkeu dan Gubernur BI Sepakati Agenda Kebijakan Global di Washington

Hadapi Ketidakpastian Global, Menkeu dan Gubernur BI Sepakati Agenda Kebijakan Global di Washington

Gubernur BI dalam rangkaian pertemuan Spring Meetings.(foto: departemen komunikasi BI)

WASHINGTON D.C. – Di tengah bayang-bayang konflik geopolitik dan dinamika teknologi yang mendisrupsi dunia, para pemimpin keuangan global berhimpun untuk merumuskan arah ekonomi masa depan. Dalam rangkaian Pertemuan Musim Semi (Spring Meetings) IMF-World Bank 2026, negara-negara anggota International Monetary Fund (IMF) resmi menyepakati Global Policy Agenda sebagai langkah bersama mendukung pertumbuhan ekonomi dunia.

Pertemuan yang berlangsung pada 13–18 April di kantor pusat IMF dan Grup Bank Dunia, Washington D.C. ini, dihadiri langsung oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dan Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa.

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Anton Pitono, menyatakan bahwa meskipun ekonomi global dihadapkan pada ketidakpastian kompleks—terutama akibat perang di Timur Tengah—IMF menilai perekonomian dunia masih menunjukkan resiliensi yang cukup kuat.

Namun, tantangan bukan hanya datang dari konflik fisik. Perubahan besar di bidang teknologi, seperti Artificial Intelligence (AI), serta dinamika demografi dan lingkungan, turut menjadi sorotan utama.

“Negara-negara anggota IMF mendorong langkah bersama untuk menghadapi ketidakpastian global, sekaligus memastikan transformasi ekonomi bermanfaat bagi pertumbuhan dunia,” tulis Anton dalam siaran pers resminya, Sabtu (18/4/2026).

Di tengah forum unik yang mempertemukan menteri, bankir sentral, hingga akademisi ini, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan komitmen kuat Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

Indonesia mengandalkan strategi pengelolaan nilai tukar yang fleksibel namun tetap terukur. Penguatan instrumen moneter juga dilakukan secara konsisten untuk menjaga daya tarik aset domestik, dibarengi dengan pengelolaan likuiditas yang hati-hati.

“Sinergi erat dengan Pemerintah terus dilakukan, terutama dalam menjaga disiplin fiskal dengan komitmen mempertahankan defisit di bawah 3% dari PDB,” tegas Perry dalam diskusi yang berlangsung pada 16–17 April tersebut.

Secara jangka menengah, Indonesia tetap konsisten mendorong hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi guna mencapai ekonomi yang bernilai tambah lebih tinggi dan berkelanjutan.

Tiga Pilar Global Policy Agenda
Kesepakatan Global Policy Agenda yang diteken para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral menitikberatkan pada tiga pilar utama, yaitu Stabilitas Moneter & Fiskal, Reformasi Struktural, dan kerjasama Internasional.

“Stabilitas Moneter & Fiskal untuk menjaga ekspektasi inflasi melalui komunikasi kebijakan yang jelas serta memperkuat pengawasan perbankan, reformasi Struktural sebagai upaya memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi energi terbarukan dan pemanfaatan peluang teknologi, dan kerjasama Internasional dalam upaya memperkuat jaring pengaman keuangan global untuk membantu negara-negara yang membutuhkan bantuan likuiditas.

IMF juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas lembaga dalam menjalankan fungsi surveilans (pengawasan) serta pemberian bantuan teknis bagi negara anggota agar mampu bertahan dari guncangan ekonomi di masa mendatang.(rls/mn)

Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya

Gabung Sekarang
Komentar
Bagikan:

Iklan