Nestlé Berminat, Namun Kaltim Terkendala Air Bersih Berkualitas Industri
Samarinda – Isu klasik ketersediaan air bersih dengan standar kualitas industri kembali menjadi penghalang utama bagi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk menarik investasi global di sektor pertanian.
Harapan Kaltim untuk menjadi pusat industri olahan pisang kepok grecek terpaksa tertahan setelah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia, Nestlé, menunjukkan minat investasi namun menghentikan rencana tersebut karena kendala air baku.
Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, Kosasih, menyampaikan bahwa ketertarikan Nestlé bukanlah sekadar wacana.
Perusahaan multinasional tersebut bahkan telah melakukan kunjungan langsung pada tahun 2023 untuk meninjau potensi pengembangan pisang kepok Kaltim, yang dinilai sangat cocok sebagai bahan dasar tepung untuk makanan bayi.
“Nestlé sudah datang, melakukan survei, dan mereka sangat berminat. Terutama karena pisang kepok Kaltim cocok untuk bahan tepung makanan bayi,” kata Kosasih.
Ia menyebutkan bahwa Nestlé telah meninjau kebun, titik sumber air, hingga calon tempat pendirian pabrik di Kutai Timur. Namun, hasil feasibility study (kajian kelayakan) menguak kendala besar yang menghambat proses investasi.
Kendala utama adalah kualitas air yang tersedia di lokasi yang diincar. Air yang seharusnya digunakan untuk mencuci pisang memiliki kandungan mineral tinggi seperti zat besi (Fe), aluminium (Al), dan sulfur. Kondisi ini membuat air bersifat asam, yang berdampak langsung pada kualitas produk olahan.
“Tepung itu harus putih bersih. Begitu dicuci pakai air asam, warnanya berubah merah atau kuning. Mutu langsung turun, dan bagi industri besar itu jadi tidak layak,” jelas Kosasih.
Perubahan warna ini dinilai tidak memenuhi standar ketat industri makanan global.
Masalah kualitas air inilah yang membuat Nestlé berhenti pada tahap kajian, karena proses pemurnian air untuk mencapai standar minimal setara kualitas PDAM atau air pegunungan akan meningkatkan biaya produksi secara signifikan.
Di tengah persoalan tersebut, DPTPH Kaltim sebenarnya telah mengidentifikasi wilayah yang memiliki kualitas air ideal untuk industri makanan, yakni Selangkau di Kutai Timur.
Air di kawasan tersebut terbukti memiliki kandungan mineral yang stabil dan telah digunakan oleh industri semen besar yang beroperasi di sana. Namun, kendala lahan muncul.
“Air di Selangkau itu bagus sekali. Cocok untuk industri makanan. Tapi lahan di sana sudah habis dimiliki masyarakat, sehingga pembebasan lahannya mahal,” ujarnya.
Oleh karena itu, Kosasih menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu segera mengambil tindakan strategis dengan menetapkan zona industri hortikultura yang dilengkapi akses air bersih berkualitas.
Tanpa langkah proaktif ini, investor sebesar apa pun akan ragu untuk masuk dan merealisasikan investasinya.
Kosasih optimistis bahwa peluang investasi dari Nestlé masih terbuka lebar, asalkan ada arahan khusus dari pemimpin daerah.
“Kuncinya gubernur. Kalau beliau mendorong dan menyiapkan lokasi dengan air bersih, Nestlé pasti mau lanjut,” tegasnya, menyoroti peran sentral kebijakan Pemprov.
Lebih jauh, ia menilai pembangunan pabrik tepung pisang ini memiliki manfaat ganda tidak hanya untuk kepentingan investor, tetapi juga untuk menjamin kepastian pasar bagi petani pisang kepok Kaltim. Selama ini, petani sering kesulitan menjual hasil panen mereka saat memasuki masa panen raya.
“Kalau ada pabrik, petani tidak bingung lagi. Semua hasil panen pasti terserap,” tambahnya.
Dengan potensi perluasan lahan pisang hingga 12.000 hektare, Kaltim berpeluang besar menjadi pusat industri olahan pisang terbesar di kawasan timur Indonesia.
“Namun, realisasi potensi ekonomi ini kini bergantung pada kemampuan daerah menyelesaikan satu persoalan fundamental yaitu penyediaan air bersih berkualitas industri,” pungkas Kosasih.(ct/ADV/Diskominfo)
Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya
Gabung Sekarang



