DPTPH Kaltim Dorong Teknologi Khusus Atasi Tantangan Tanah Masam
Samarinda – Dominasi lahan asam yang menjadi karakter geologis sebagian besar wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) kini mendorong Pemerintah Provinsi memasuki era baru pengelolaan hortikultura.
Pemerintah melalui Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) diproyeksikan mempercepat riset dan penerapan teknologi pengolahan lahan suboptimal.
Hal ini dilakukan setelah temuan lapangan menunjukkan bahwa kondisi tanah masam Kaltim membutuhkan pendekatan budidaya yang jauh lebih spesifik dan adaptif dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.
Kepala Bidang Hortikultura DPTPH Kaltim, Kosasih, menegaskan bahwa tantangan utama bagi petani Kaltim tidak lagi hanya berkisar pada akses pasar, tetapi lebih fundamental, yaitu kemampuan mengelola kondisi tanah yang cenderung masam baik di wilayah pesisir maupun daerah dataran rendah.
“Kaltim ini daerah suboptimal. Kebanyakan tanahnya asam. Ini yang membedakan kita dari daerah seperti Jawa. Di sana mau tanam apa saja bisa bagus, sementara kita harus benar-benar sesuaikan komoditas dengan kondisi lahan,” jelasnya (5/12/2025).
Karakteristik tanah asam inilah yang mengharuskan pengembangan hortikultura di Kaltim meninggalkan pola seragam.
Kosasih menyebut bahwa keberhasilan budidaya di setiap daerah menjadi sangat spesifik. Durian dan jeruk nipis, misalnya, unggul di Kutai Barat, sementara komoditas lay tumbuh baik di beberapa titik Kutai Barat dan Kutai Kartanegara.
Kasus nanas yang dulunya berjaya di Samboja kini harus bergeser ke Kutai Timur karena perubahan kualitas tanah akibat aktivitas tambang.
“Nanas itu sensitif. Kalau tanah tidak cocok, apalagi asam ekstrem, hasilnya bisa asam dan ukuran tidak stabil. Makanya sekarang petani banyak pindah ke Kutai Timur, terutama kawasan Hima Lestari yang tanahnya masih bisa diolah,” katanya.
Kosasih mencontohkan dampak langsung kualitas tanah terhadap hasil panen.
Fenomena di Long Kali juga memberikan bukti bahwa adaptasi terhadap lahan asam bisa melahirkan terobosan baru.
Di wilayah yang dikenal memiliki tanah masam ekstrem tersebut, petani justru berhasil membudidayakan tanaman anggur hingga mampu berbuah lebat, sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil di Kaltim.
“Ditanam di Samarinda tidak berbuah, tapi di Long Kali bisa. Artinya, meski tanah asam, ada kecocokan iklim dan struktur tanah yang pas,” ujar Kosasih.
Melihat kondisi ini, Pemprov Kaltim diproyeksikan segera mengembangkan strategi jangka panjang yang komprehensif.
Strategi tersebut meliputi: pemetaan pH tanah per kecamatan untuk mendapatkan data akurat; penerapan teknologi pengapuran skala luas; penggunaan pupuk organik fermentasi untuk menetralkan sifat asam tanah; hingga pembangunan teaching farm khusus lahan asam sebagai pusat pelatihan dan riset.
Melalui pendekatan ilmiah dan teknologi yang spesifik ini, pemerintah ingin memastikan bahwa komoditas hortikultura di Kaltim tidak hanya mampu bertahan hidup, tetapi dapat berkembang optimal.
Selain itu, Kosasih juga mengingatkan risiko ekologis apabila Kaltim terus didominasi monokultur sawit, terutama pada lahan yang sudah asam.
“Kalau sawit semua, akar pohonnya tidak kuat menahan air. Makanya banjir sering terjadi. Kita perlu pohon buah, perlu tanaman dengan akar tunjang agar air bisa terserap,” pungkasnya.
Diakhir, dirinya menegaskan bahwa pengembangan hortikultura adalah bagian integral dari upaya mitigasi bencana dan menjaga keseimbangan ekosistem di Kaltim.(ct/ADV/Diskominfo)
Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya
Gabung Sekarang



