Kaltimpedia
Beranda Nasional Wisata Pantai Kaluku Donggala Sepi Pengunjung, 7 Tahun Paska Gempa Belum Kembali Menggeliat

Wisata Pantai Kaluku Donggala Sepi Pengunjung, 7 Tahun Paska Gempa Belum Kembali Menggeliat

Gazebo-gazebo yang tidak lagi terawat dibawa pohon Kelapa yang tumbuh di kawasan Pantai Kaluku.

DONGGALA – Gempa dan Tsunami yang melanda Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 menyisakan kegetiran di kampung Kaluku, terutama bagi warga yang menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata Pantai Kaluku.

Pantai Kaluku secara administratif masuk wilayah Desa Limboro, kecamatan Benawa Tengah, kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, posisinya langsung berhadapan dengan laut Sulawesi langsung -0,7034148, 119,6839877 sangat berpotensi terkena tsunami manakala terjadi gelombang tsunami.

Labondo, pria usia menjelang senja mengenang kegetiran yang terjadi tujuh tahun lalu. Bagaimana tidak tempat wisata Kaluku yang berada di atas lahan miliknya setiap hari libur bisa menghasilkan uang jutaan rupiah dan menjadi tumpuan hidup keluarga besarnya, setelah ditimpa gempa bumi ditambah diterjang tsunami menjadi luluh lantak hingga kini belum kembali menggeliat lagi.

Perahu dan jaring tampak di Pantai Kaluku.

“Hari itu Jum’at sore, 28 September 2018 bumi seperti di goyang cukup kencang, rumah pada roboh karena goyangan gempa. Termasuk rumah yang saya tempati juga ikut roboh,” kenang Labondo (62) saat ditemui di kawasan Pantai Kaluku Desa Limboro, kecamatan Benawa Tengah kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Minggu (15/6/2025).

Ia menceritakan sebelum terjadi bencana gempa bumi dan tsunami areal wisatanya selalu dipenuhi pengunjung. “Kalau hari libur, Sabtu-Minggu penghasilan dari parkir saja mencapai antara 1 juta hingga 1,5 juta. Hari-hari biasa sekitar 500 ribu rupiah,” ucap Labondo.

Yuliati, warga yang tinggal di Pantai Kaluku.

Sepanjang panti Kaluku, lanjut Labando penuh dengan pedagang yang menjajakan berbagai jenis makanan. Keluarga besarnya menyandarkan hidupnya dari pantai wisata ini. “Pengunjung yang masuk ke pantai Kaluku tidak di pungut uang masuk, hanya uang parkir saja, itupun seikhlasnya. Jadi banyak warga yang berlibur ke pantai sini,” jelasnya.

Suasana pantai dengan hamparan pasir putih yang landai ditambah deretan pohon kelapa dengan pemandangan kapal-kapal tradisional nelayan tertambat menambah suasana perkampungan nelayan yang damai.

Namun setelah 7 tahun berselang, geliat pengunjung Pantai Kaluku belum juga bisa bangkit kembali. Kini tidak ada lagi pengunjung yang datang, paling satu atau dua orang yang mau bersantai.

“Pantai sepi pengunjung, kami hanya mengandalkan hidup dari mencari ikan,” jelas pria yang pernah mendapat bantuan sebesar Rp25 juta dari pemerintah akibat kerusakan rumahnya paska gempa.

Labondo, warga Desa Limboro kecamatan Benawa Tengah pemilik lahan di atas wisata Pantai Kaluku.

Paska gempa, lanjut Labondo dari pemerintah melakukan pendataan terhadap rumah-rumah yang terdampak. “Habis terkena gempa, kami mendapatkan bantuan 25 juta. Karena pada saat itu ada 3 tingkat bantuan yang diberikan dari pemerintah, jika kerusakan parah dibantu 50 juta, yang agak parah 25 juta dan yang kerusakan ringan 10 juta.” terangnya.

Sepinya pengunjung Pantai Kaluku juga dikeluhkan Yuliati (52) yang biasa menggantungkan kehidupannya dari pantai. “Saya tinggal disini bersama 10 kepala keluarga yang masih satu keluarga. Disini ada 10 rumah, setelah gempa terjadi kami hanya menggantungkan hidup dari mencari ikan. Dan anak-anak kerja di kebun sawit,” tutur Yuliati.

Disampikan Yuliati sebelum terjadi bencana gempa dan tsunami keluarganya selain bermata pencaharian nelayan lebih mengandalkan kepada hasil dari parkir wisata Pantai Kaluku ini.

“Kalau sekarang mencari ikan paling dapatnya bersih 30 ribu. Tidak ada lagi pengunjung ke pantai ini. Kami 10 rumah yang tinggal di pantai, tadinya mengandalkan dari parkiran pengunjung, sekarang ada yang kerja di perkebunan sawit ada yang mencari ikan,” jelasnya.

Untuk menyambung kebutuhan hidup hari-hari Yuliati bersyukur dibantu pemerintah lewat PKH (Program Keluarga Harapan) merupakan bantuan sosial (bansos) dari Kementerian Sosial (Kemensos) untuk penerima manfaat (KPM) atau keluarga kurang mampu.

“Tadi saya cek PKH belum cari, padahal kebutuhan di rumah sudah pada habis,” tukasnya.

Di pantai wisata Kaluku saat ini terdapat 10 bangunan rumah yang baru mendapatkan penerangan listrik PLN sejak satu tahun lalu. Banyak bangunan-bangunan bekas warung-warung yang ditinggal karena tidak ada lagi pengunjung.

Akses menuju pantai wisata Kaluku masih jalan tanah berpasir yang cukup sulit dilalui kendaraan roda 4. “Ada jembatan yang dibangun pemerintah tapi sudah lama belum selesai, jadi warga yang akan menuju ke pantai Wisata Kaluku hanya bisa lewat menyeberang sungai kecil di samping jembatan yang dibangun. Jika turun hujan tidak bisa lewat penuh air,” pungkasnya.(mn)

Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya

Gabung Sekarang
Komentar
Bagikan:

Iklan