Kaltimpedia
Beranda Nasional Angka Stunting di Kaltim Turun, DPRD Ingatkan: Jangan Lengah, Perjuangan Belum Usai!

Angka Stunting di Kaltim Turun, DPRD Ingatkan: Jangan Lengah, Perjuangan Belum Usai!

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra. (Foto)

Kaltimpedia.com, SAMARINDA – Kabar menggembirakan datang dari sektor kesehatan Kalimantan Timur. Angka prevalensi stunting di provinsi ini mengalami penurunan signifikan dari 17 persen pada tahun 2023 menjadi sekitar 14 persen di 2024. Meskipun data tahun 2025 masih dikompilasi, tren ini menjadi sinyal positif atas kerja keras berbagai elemen.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra, menilai capaian ini sebagai hasil nyata dari kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan kesadaran masyarakat yang kian meningkat terhadap pentingnya gizi anak.

“Penurunan ini tidak terjadi begitu saja. Ini hasil dari kerja bersama, mulai dari posyandu, puskesmas, dinas kesehatan, hingga dukungan keluarga. Tapi perjuangan belum selesai,” ujar Andi Satya.

Ia menekankan, meskipun terjadi penurunan, tantangan ke depan justru lebih berat. Menurutnya, pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini, bahkan dimulai sejak masa kehamilan. Perhatian besar perlu diberikan pada masa emas tumbuh kembang anak, yakni 1.000 hari pertama kehidupan.

“Kalau masa itu terlewat tanpa intervensi gizi yang tepat, risiko stunting meningkat drastis. Di titik itulah masa depan anak ditentukan,” tegasnya.

Andi Satya juga mendorong penguatan edukasi gizi kepada ibu hamil dan menyusui, sebagai ujung tombak pencegahan. Ia menyarankan penyuluhan tak hanya dilakukan lewat posyandu, tapi juga diperluas melalui media sosial dan platform digital agar menjangkau generasi muda secara luas.

“Informasi soal gizi harus dikemas menarik dan mudah dipahami. Karena kadang, masalah bukan hanya kurang makanan, tapi kurang pengetahuan,” ungkapnya.

DPRD Kaltim, lanjut Andi, berkomitmen mendukung program penguatan sinergi antarinstansi. Kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan pihak swasta, dinilai penting untuk memastikan ketersediaan makanan bergizi, pemantauan tumbuh kembang anak, serta penyebaran pola asuh yang tepat di tengah masyarakat.

“Kita butuh pendekatan holistik. Pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Semua pihak harus terlibat, dari rumah tangga sampai korporasi,” tuturnya.

Dengan semangat gotong royong dan edukasi berkelanjutan, Andi optimistis Kalimantan Timur bisa mencetak generasi yang lebih sehat, cerdas, dan kompetitif di masa depan.

“Stunting bukan hanya soal tubuh pendek, tapi soal masa depan anak bangsa. Kita tidak boleh lengah,” pungkasnya penuh keyakinan.
(DPRDKaltim/Adv)

Join Group Wa Kami Kaltimpedia.com agar tidak ketinggalan berita terbaru lainnya

Gabung Sekarang
Komentar
Bagikan:

Iklan